Just another WordPress.com site


            Suatu ketika andi seorang karyawan kantoran mendapat tugas oleh bosnya untuk membuat laporan tahunan yang rencananya laporan itu akan digunakan oleh bosnya untuk presentasi pada pimpinan Direksi 3 hari lagi, dengan semangat andi menerima amanah itu, sepanjang hari di tambah lembur dan berlanjut dirumah di tetap bekerja mengerjakan permintaan bosnya tersebut, dia mencari data-data pendukung kegiatan, keuangan sampai jumlah barang yang terjual oleh perusahaan tersebut selama kurung waktu satu tahun, dia buat perbandingan penjualan antara tahun yang membanggakan dan segala data pendukung lainnya untuk melengkapi permintaan bosnya dan Alhamdulillah pada hari yang sudah di tentukan dia sudah menyelesaikan Laporanya dan segera menghadap kepada bosnya, ketika menghadap bosnya dan ingin menyerahkan laporannya si bos berkata, “maaf andi laporannya tidak jadi, anto sudah membuatkannya jadi saya pake punya anto saja tuk laporan tahunannya”, begitu kagetnya andi usahanya selama ini tidak digunakan bahkan data yang digunakan adalah datanya sahabat kerjanya namun dengan senyum andi menjawab “baik pak tidak apa-apa ini saya tetap serahkan saja mungkin bisa melengkapi datanya anto” dengan senyum lega andi melangkah keluar ruangan si bos dan dalam hatinya dia mengsyukuri karena sebenarnya usaha dia selama 3 hari ini tidak sepenuhnya gagal dia banyak belajar dari 3 hari tersebut segala macam informasi yang tidak dia pahami dan menjadi ilmu baru bagi dia.

Dari Umar bin Khaththab RA, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal tergantung pada niat. Dan sesungguhnya setiap orang akan diberi balasan menurut niatnya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena thaat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan diberi balasan hijrahnya karena thaat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena menginginkan keuntungan dunia yang akan didapatnya atau karena menginginkan wanita yang dia akan mengawininya, maka hijrahnya itu akan diberi balasan menurut niatnya dia berhijrah itu”. [HR. Bukhari dan Muslim]

      Yup semua selalu bermuara dari niat awal kita, ketika niat kita adalah mencari kekuasaan atau mencari muka maka ketika apa yang kita cari itu tidak berhasil maka sifat kecewa akan mengakar luas di hati kita, namun jika niat kita semata-mata karena ibadah kepada Allah.. maka apapun hasilnya kita serahkan pada Allah dan Ikhlas apapun itu hasilnya, cerita diatas mengambarkan memang bukan persoalan yang mudah meng Ikhlaskan sesuatu, saya pun masih belajar kawan.

    coba bayangkan jika si Andi menanggapi dengan emosi, atau dia memendam emosi didalam hatinya saja apakah akan merubah keputusan si bos ? atau jangan-jangan si andi akan lebih dibenci si bos dimarahi si bos, tapi andi tidak memilih jalan itu dia lebih memilih lebih memilih tetap menyerahkan laporannya mungkin saja si bos butuh sebagai data dukung laporannya anto dan selesai ^_^ ,  andi sadar menyikapi emosi tidak bernilai baik bagi dirinya dan pun belum tentu si bos akan menerima berkas laporannya, ia lebih memilih meng Ikhlaskan hasilnya kepada Allah dan memilih tidak kecewa karena kecewa ataupun tidak hasilnya tidak berubah . Dia lakukan semuanya karena Allah semata dan Allahlah yg akan membalas kerja kerasnya karena tidak ada yang sia-sia dari segala pengorbanannya, toh pun dengan dia mengerjakan laporan tersebut ia belajar banyak cara membuat laporan, mengetahui alur informasi perusahaan, makin bisa menganalisa kebutuhan perusahaan kedepan dan yang pasti andi akan semakin matang dengan selalu menyimpan energi positif dalam dirinya (penting !!).

     Ikhlas memang tidaklah mudah, menerima segala hasil yang kita dapat entah itu berhasil maupun belum mendapatkan hasil yang sesuai harapan, namun percayalah Allah pasti punya cara tersendiri untuk mendidik kita,  menjadi orang yang belum berhasil atau tidak dihargai hasilnya bukan berarti kita Kalah,  Karena Ikhlas itu bukan artinya menyerah namun memposisikan diri tuk menerima yg terjadi dan coba menghasilkan yang lebih baik dengan pengalaman yang sudah terjadi, dengan cara itu Allah mengajarkan kita artinya kekurangan yang perlu kita perbaik untuk hasil yang lebih baik, berapa banyak contoh orang-orang yang berhasil dengan cara yang instan namun sangatlah cepat jatuhnya dibandingkan orang-orang yang berjuang dengan proses yang keras dan menemui macam-macam cobaan hingga dia lebih matang dan lebih kuat menghadapi cobaan. Ikhlas itu kuncinya kawan menerima tanpa mencari kambing hitam dari sebuah kegagalan

         ketika orang lain tidak mau mengangkat telepon didalam ruangan, eko dengan Ikhlas mengangkat telepon tersebut, dan pada suatu ketika yang menelepon adalah pimpinan yang meminta bantuan, dari hal yang kecil itulah akhirnya eko dipercayai untuk memegang amanah tertentu. Ingatlah kawan bantuan Allah sangatlah luas tidak ada yang hina dari perkerjaan yang baik, baik itu perjaan yang kita anggap sepele, ikhlas akan bermuara pada hasil yang baik, ikhlas membantu tanpa pamrih, ikhlas mengajarkan ilmu yang kita pahami pada teman-teman kita atau Ikhlas mengerjakan hal-hal yang kecil dan dianggap orang lain tidak penting.

      Ikhlas akan mengurangi beban fikiran kita, meminimalkan prasangka negatif yang akan mengotori hati dan membebani fikiran kita, padahal dengan berprasangka negatif kita akan hidup dalam bayang-bayang kebencian, tendensius dan selalu berburuk sangka, lelah..jujur itu akan membuat kita lelah dan produktifitas yang akan kita hasilkan akan lebih menurun karena terlalu letih berprasangka negatif.

   percayalah Allah tidak tidur,  walau Hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan Allah akan memberikan hasil yang kita butuhkan dan itu lebih penting kawan, maka mari kita belajar mengikhlaskan diri.. didalam Twitt saya pernah menulis “jika kau tak menemukan Keadilan maka cobalah menemukan Ke Ikhlasan” yakinlah ada kenikmatan Allah yang besar dari ke Ikhlasan itu.. percayalah ^_^

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim]

@Brohari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: