Just another WordPress.com site

Dia ku Panggil Ibu


 

Jakarta 19 Agustus 2011 tanggal saya menulis tulisan ini.. disaat orang-orang sudah banyak terlelap dengan buayan mimpi indah.. secangkir teh hangat yg agak manis seolah menjadi menu malam ini sebelum saya pun ikut terlelap dan bersiap menyongsong hari esok.

ada yg mendorong saya untuk menulis tulisan ini.. tentang sosok orang yang berpengaruh dalam perjalanan hidup saya.. tentang yg menurut saya pantas di idolakan dan sosok tegar ketiga sosok pemimpin rumah tangga meninggalkannya untuk selama-lamanya karena takdir kehidupan yang tidak bisa dilawan.. ya.. dia adalah sosok ibu

fikiran saya melayang ketika saya masih kecil (ketika jelang masuk SD) ayah yg selama ini menjadi tumbuhan dalam mencari nafkah di panggil Allah untuk selama-lamanya, sehingga sosok yang mengantikan peran itu adalah ibu yang berkerja sekuat tenaga tuk mencari nafkah untuk ketiga anaknya.. letih pastilah.. lelah memang namun ke ikhlasan itulah yang memotivisnya tuk tetap bertahan berkerja.. sampai akhirnya kakak pertama berkerja dan ibu memutuskan untuk pensiun dan alhamdulillah kami bertiga sudah berkerja dan sudah menghaji kan ibu kami..

“Seseorang bertanya kepada Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- : siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbakti kepadanya? beliau menjawab : ibu kamu, kemudian ibu kamu, kemudian ibu kamu, kemudian ayah kamu.” (hadist riwayatkan oleh Imam Muslim)

Diantara alasan yang menjadikan ibu sebagai orang yang paling berhak untuk ditaati dan dibakti adalah karena kejadian durhaka kepada orang tua kebanyakan menimpa seorang ibu dari pada ayah. dan karena ibu adalah orang yang melahirkan kita, menyusui kita, mendidik kita, menjaga setiap saat kita terbangun. semua yg dilakukan itu adalah suatu ke ikhlas ketika kita sakit merekalah yang paling sibuk dan paling memikirkan kita jadi pantaskah kita menghormati dan menyanginya

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman : 14)

jadi menjadi sebuah kewajaran jika rasa hormat kita pada ibu lebih tinggi dari pada ayah kita (walau bukan berarti kita tidak menghormati ayah kita). bahkan ada perumpamaan “jika kita mengendong ibu kita melintasi padang pasir yang tandus sekalipun tidak sebanding dengan pengorbanan yang ia berikan dengan kita”,  patuh padanya adalah keharusan kawan karena mereka lebih dulu hidup dan lebih berpengalaman dalam menjalani kehidupan.

banyak cerita tentang pembangkangan anak terhadap ibunya yg berbuah durhaka.. ada yg sulit disaat sakratul mautnya ada yg diberikan musibah.. bahkan cerita rakyat maling kundang mengambarkan masalah durhaka anak terhadap ibunya..

jadi pengikuti dan menghormati bukanlah suatu kemanjaan atau pantas disebut sebagai anak mama lah anak ibu dll.. tapi itu sebuah penatasan dan sebuah penghormatan terhadap orang yang pernah mengasihi kita

so.. moga rasa cinta dan sayang kita pada kedua orang tua kita khususnya ibu kita.. moga kita termaksud orang-orang yg berbakti padanya dan doa kita diterima allah tuk kedua orang tua kita

 

-BroHari-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: